Sabtu, 12 Juni 2010

Mengapa Kita Mudah Berghibah

Oleh: KH.Dr. Jalaluddin Rakhmat

Suatu hari di zaman Nabi, seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulallah, apakah yang disebut dengan ghibah?" Rasulullah saw menjawab, "Ghibah adalah menceritakan keburukan orang lain di belakang dia." Sahabat itu bertanya lagi, "Bagaimana bila keburukan itu memang terdapat pada dirinya?" Rasulullah menjawab, "Itulah yang disebut dengan ghibah." "Lalu bagaimana bila keburukan itu tidak terdapat pada dirinya?" "Hal itu disebut dengan buhtân atau fitnah. Dosanya lebih besar daripada ghibah," jawab Rasulullah.

Minggu, 06 Juni 2010

Pesan tertulis Ayatullah Khamenei menyusul kejahatan Zionis di perairan dekat Gaza

Pesan Tertulis Ayatullah Khamenei Menyusul Kejahatan Zionis di Perairan Dekat Gaza
Posted on 2 Juni 2010 by Ali Reza

Menyusul terjadinya serangan brutal tentara Rezim Zionis Israel terhadap konvoi Freedom Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah Al-Uzhma Sayid Ali Khamenei menyebut serangan itu sebagai serangan terhadap opini umum dan hati nurani umat manusia sedunia. Berikut adalah teks lengkap pesan tertulis pemimpin dunia Syiah terkait insiden penyerangan konvoi Freedom Frotilla.

Bismillahirrahmanirrahim

Selasa, 18 Mei 2010

Antara Cinta, Iman dan Akal

By Dimitri Mahayana



Al-‘aqliyyuun yakin bahwa esensi manusia adalah “keberpikirannya”. Bagi mereka semakin sempurna seorang manusia, semakin sempurna pula pemikirannya. Karena itu insan kamil (manusia sempurna) menurut pandangan ini adalah orang yang paling sempurna nalarnya, dalam arti telah menyingkap rahasia wujud (keberadaan) sebagaimana kenyataannya. Tafakkur, -dalam pengertian rasionalnya-, merupakan satu aktifitas utama yang menghantarkan manusia mencapai tujuannya. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil – albaab. (Yaitu) orang-ornag yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi : ` Yaa Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran 190-191).

Senin, 03 Mei 2010

TANYA-JAWAB SEPUTAR PLURALISME AGAMA & MAZHAB (Bag 2)

Bersama: Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi

(Pakar fikih, mistik, filsuf dan masalah keislaman kontemporer)

VII

TUJUAN PELONTARAN MASALAH PLURALISME

DITENGAH MASYARAKAT

Tanya: Apakah tujuan dilontarkannya permasalahan pluralisme agama pada masyarakat kita?

Jawab: Dalam media massa ataupun ceramah-ceramah yang sering dilakukan oleh orang-orang yang tak dikenal, beberapa kali kita dengar mereka melontarkan pemikiran pluralisme agama dan mereka juga tekankan bahwa Islam, Kristen maupun agama-agama lain memiliki kebaikan oleh karenanya harus ada saling menghormati dan toleransi antar pengikut keyakinan-keyakinan yang ada. Sebagaimana kita menyukai jika keyakinan kita dihormati orang lain dan kita diberi kebebasan mengamalkan segala ajaran yang kita miliki maka merekapun harus kita beri hak untuk menganggap diri mereka dalam kebenaran dan memberi kebebasan untuk mengamalkan segala ajaran mereka, juga menghormati dan menganggap akan keberadaan dan kebenaran akidah mereka.

TANYA-JAWAB SEPUTAR PLURALISME AGAMA & MAZHAB (Bag 1)

Bersama: Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi

(Pakar fikih, mistik, filsuf dan masalah keislaman kontemporer)

I
PLURALISME DAN ASPEK-ASPEKNYA

Tanya: Apakah yang dimaksud dengan pluralisme, dan dalam aspek apa saja hal tersebut bisa diterapkan?

Jawab: Plural berarti beragam oleh karenanya pluralisme bisa diartikan sebagai kecenderungan untuk menerima keberagaman. Kecenderungan tersebut merupakan lawan dari kecenderungan monois yang hanya menerima hal yang tunggal. Di dalam banyak aspek sosial sering kita dapati ada pekerjaan yang ditangani oleh satu orang saja ataupun satu kelompok, dan ada pula yang ditangani oleh beberapa orang atau beberapa kelompok. Jika kita menerima bahwa suatu pekerjaan bisa dilaksanakan oleh beberapa orang ataupun beberapa kelompok maka hal inipun disebut sebagai pluralisme. Begitu pula sebaliknya, jika kita menerima bahwa suatu pekerjaan hanya bisa dilaksanakan oleh satu orang atau satu kelompok saja maka hal itu disebut dengan monoisme.